01
Sep
09

Seharusnya umat muslim lebih produktif di bulan puasa

Kondisi memprihatinkan bisa kita lihat dalam pemberitaan-pemberitaan maupun dalam keseharian yang kita alami sendiri, kantor-kantor pemerintah maupun swasta diberitakan lengan. Pegawainya banyak yang terlambat datang, sementara pada jam kerja banyak yang tertidur, atau banyak yang cepat pulang sebelum waktu pulang. Berbagai alasan pembenaran kerap kita dengar, apakah itu mengkambing hitamkan terlambat bangun, kurang tidurlah, atau mau mempersiapkan hidangan buka pusa.

Apapun alasannya yang pasti bahwa bukan seperti itu sikap yang diharapkan dalam bulan puasa. Bulan puasa seharusnya membuat orang muslim semakin Produktif. Lihat saja, kadang ada orang yang terlambat masuk kerja karena terlambat bangun, atau karena menyelesaikan urusan rumah tangga, keperluan anak-anak dan sebagainya. Hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi di bulan puasa.

Kita disunnahkan bangun lebih pagi untuk makan sahur kemudian shalat subuh. Momen seperti ini seharusnya sudah menjadi kebiasaan kita. Apa yang kita bisa petik hikmah dari kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Bangun lebih pagi menandakan sifat orang yang produktif , segala sesuatunya kita bisa siapkan untuk keperluan aktifitas kita pada hari tersebut. Bayangkan saja apabila kita telah mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan, sementara umat lain belum bangun.

bila diumpamakan dengan perlombaan lari, kita telah melesat jauh kedepan, sementara lawan kita masih bersiap-siap untuk mengambil posisi star. Jadi apa yang membuat umat muslim tertinggal?

26
Feb
08

Bakateri Enterobacter Sakazakii (ancaman kesehatan atau persaingan usaha?)

Penelitian yang dilakukan Tim peneliti dari IPB Bogor (Dr. Sri Estuningsih, dkk) tentang penemuan Bakteri Enterobacter Sakazakii yang mencemari  22,73 % susu formula dan 40 persen makanan bayi spontan membuat resah ibu-ibu rumah tangga yang memiliki anak balita dan mengkonsumsi susu formula.

Ahli Hispatologi fak. Kedokteran Hewan IPB ini mengungkapkan hasil penelitiannya yang dilakukan sejak tahun 2003 sampai 2006 dengan menggunakan sebanyak 22 sampel susu formula dan 15 sampel produk makanan bayi.

Penelitiannya menyimpulkan di Indonesia terdapat susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi oleh E. Sakazakii yang menghasilkan enterotoksin tahan panas dan menyebabkan enteritis, sepsis dan meningitis pada bayi mencit.

Sementara itu Menteri Kesehatan mensinyalisasi penemuan tersebut sebagai persaingan bisnis.  Ia mempertanyakan apa latar belakang dilakukannya penelitian tersebut dan  siapa penyandang dananya. karena sampai saat ini belum ada kasus yang didapatkan akibat dari infeksi bakteri tersebut. ia juga meminta masyarakat agar tidak terlalu resah dan telah memerintahkan BPOM untuk menindak lanjuti masalah ini.

Apapun alasannya, penelitian tersebut mestinya ditanggapi secara posotif dan mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. Jangan ada tudingan yang negatif karena hal ini menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. Masyarakat mengingkan keterbukaan dari BPOM untuk mengumumkan produk-produk yang terkontaminasi jika memang telah dilakukan investigasi. Jangan melindungi pengusaha dan mengabaikan kesehatan Banyak orang terutama generasi kita.




Selamat Bergabung..

Mari terus berkarya demi majunya perawat Indonesia! "Berpikir Kreatif dan Bertindak Rasional"

a

SocialVibe


Blog Stats

  • 29,683 hits

Flickr Photos

Noviembre

Hairy mute - Explored Front Page!

Loch Lomond

More Photos