PUASKAH ANDA MENJADI PERAWAT?
31 Mei 2011 Komentar Dimatikan
in Tak terkategori
Tentunya jika berbicara tentang puas dan tidak puas setiap orang tidak akan ada kesamaannya, karena mereka memiliki kriteria tersendiri tentang kepuasan yang dirasakannya, artinya bahwa puas atau tidak puasnya seseorang adalah hal yang bersifat subjektif tidak akan sama satu dengan lainnya. Manusia sebagai makhluk yang dikaruniai dengan nafsu mendefenisikan kepuasaan tanpa ada batasannya. Manusia selalu haus akan kepuasan walaupun standar kepuasan itu telah diraihnya.
Kepuasan yang dibahas dalam tulisan ini bukanlah kepuasan tanpa batas, kepuasan disini didefensikan sebagai suatu perasaan yang menimbulkan kebahagiaan karena adanya pencapaian yang yang diperoleh berdasarkan usaha yang telah dilakukan dan berdasarkan harapannya sebelum melakukan usaha tersebut. Pencapaian yang diperoleh tersebut cenderung untuk mendorong seseorang untuk lebih berkerja dengan baik karena berharap akan ada hasil yang lebih baik yang akan dierolehnya.
Belum ada penelitian yang penulis lakukan untuk mengetahui bagaimana kepuasan perawat terhadap pekerjaan yang dilakukannya, hal ini merupakan tantangan bagi penulis dan bagi teman sejawat lainnya untuk melakukan penelitian mengenai masalah ini. Hanya saja sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan keperawatan dan melaksanakan perkerjaan keperawatan dan juga seringnya berinteraksi dengan sesama perawat mengilhami penulis untuk membahas masalah ini.
Kita tidak pungkiri bahwa sebagian besar tatanan pelayanan kesehatan tidak memberikan lingkungan kerja yang kondusif bagi perawat. Masalahnya bermacam-macam. Ada beberapa tatanan pelayanan yang mempekerjakan perawat dengan beban kerja yang berlebih (overload). Terkadang dalam satu sift jaga satu perawat harus melayani sebanyak 8-10 pasien. belum lagi pasien yang dilayani memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi, karena sangat jarang managemen Rumah Sakit yang mengatur jumlah sift perawat berdasarkan tingkat devendensi pasien. Pengaturan sift diatur berdasarkan jadwal yang sangat kaku dan hanya berdasarkan tenaga yang tersedia. Bila perawat jaga kebetulan merawat pasien yang berjumlah sedikit berarti itu adalah keberuntungannya dan bila kebetulan merawat pasien dengan jumlah besar bererati itu adalah resikonya, seperti itulah kemungkinan yang terjadi.
Lingkungan kerja (dalam hal ini ruang perawatan) terkadang penuh sesak. Bukan karena jumlah pasien yang banyak akan tetapi disesaki oleh jumlah pengunjung yang membeludak di samping tempat tidur atau dalam bangsal pasien. Kondisi seperti ini membuat perawat sangat terbatas dalam melakukan tindakan, bahkan kadang kala perawat mendapat perlakukan kasar (secara fisik maupun psikologis) dari keluarga pasien yang mengamuk karena menganggap perawat gagal atau lalai dalam merawat anggota keluarganya. Kondisi membludaknya pengunjung adalah kondisi yang wajar terjadi mengingat sistem kekerabatan bagi kita masyarakat timur masih sangat tinggi. Belum lagi rendahnya intensitas perawatan yang diberikan terhadap pasien yang memiliki tingkat ketergatungan yang sangat tinggi sehingga keluarga merasa sangat perlu untuk mendampingi pasien selama 24 jam.
Penghasilan merupakan faktor yang penting dalam sebuah kepuasan kerja. Penghasilan idealnya disesuai dengan beban dan resiko kerja, semakin tinggi beban dan resiko pekerjaan maka semakin tinggi penghasilan yang harus diterimanya. Tidak ada yang pungkiri jika beban dan resiko kerja perawat sangat tinggi, mendampingi pasien dengan jumlah tertentu selama 24 jam dan dengan berbagai tingkat ketergantungan adalah hal yang berat, belum lagi resiko tertular penyakit seperti hapatitis atau HIV. Di RS besar perawat telah terpenuhi kebutuhannya dari segi penghasilan, akan tetapi hanya sebagian kecil perawat yang berkerja di RS besar seperti itu. Yang lainnya kebanyakan bekerja di RS kecil. Kebanyakan menerima jasa pelayanan yang kecil pula. Lihat saja pemberitaan dibeberapa RS perawat dan petugas lainnya harus berdemonstrasi dan mogok untuk memperjuangkan haknya.
Bagaimana dengan jenjang karir? Menurut beberapa teman sejawat ini adalah hal yang sangat tidak diperhatikan dalam managemen RS. Apakah perawat tidak mampu? Belum tentu. Idealnya sebuah pekerjaan memiliki jenjang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi yang didasarkan pada skill dan tingkat pendidikan serta pelatihan. Akan tetapi kenyataannya semua perawat apapun pendidikannya dan berapa lamapun bekerja mereka mengerjakan pekerjaan yang sama dengan penghasilan yang sama sedikitnya pula. Sehingga banyak merasa bahwa pendidikan yang mereka tempuh dengan segala pengorbanannya terasa sia-sia tak berarti. Jabatan struktural yang membidangi pelayanan keperawatan pun kadangkala dipegang oleh profesi lain, sehingga tidak ada yang mampu mengayomi dan memperjuangkan perawat.
Ketidakpuasan kerja akan menyebabkan menurunnya komitmen terhadap organisasi, bornout, konflik peran, dan akhirnya menyebabkan prestasi kerja menurun. Jika terjadi seperti ini maka yang dirugikan adalah organisasi dan penerima layanan.
Lalu bagaimana solusinya? Tentunya regulasi kebijakan dan manajemen yang baik. Masayarakat kita telah berubah sehingga paradigma pelayananpun harus berubah. Pelayanan yang selama ini dianut dan dilaksanakan perlu di update berdasarkan sikon terkini. Ilmu berkembang dengan pesat, khususnya ilmu management (khususnya mangagement perawatan), mengapa pelayanan tidak berubah. Mari buat perubahan!
Perawatpun perlu menyadari kondisi ini dan jangan mau seperti ini selamanya. Kita adalah salah satu profesi dengan jumlah terbanyak di Indonesia, kenapa kita tidak bisa berasatu untuk membuat perubahan. Mari mengembangkan diri dengan melanjutkan pendidikan dan ikuti berbagai pelatihan. Penulis sarankan perawat jangan hanya mengejar ilmu keperawatan karena pengetahuan anda hanya akan terbatas pada ilmu disamping tempat tidur dan bangsal saja. Perawat perlu mendalami ilmu lainnya, management, ilmu sosial politik, kebijakan publik dan lain sebagainya. Ilmu itu tidak terkait dengan perawat, Salah, semua ilmu terkait dan saling mendukung untuk mengembangkan profesi kita. Pertanyaan sederhana? Mengapa draf UU Keperawatan sampai sekarang belum menjadi UU. Jawabannya sederhana karena tidak ada perawat dalam parlemen, tidak ada yang memperjuangkan amanat kita, tentunya penyebabnya karena sedikit perawat yang memiliki ilmu dibidang ini.
Perawat mari bersatu, mari buat perubahan!
Seharusnya umat muslim lebih produktif di bulan puasa
01 Sep 2009 Komentar Dimatikan
in Artikel
Kondisi memprihatinkan bisa kita lihat dalam pemberitaan-pemberitaan maupun dalam keseharian yang kita alami sendiri, kantor-kantor pemerintah maupun swasta diberitakan lengan. Pegawainya banyak yang terlambat datang, sementara pada jam kerja banyak yang tertidur, atau banyak yang cepat pulang sebelum waktu pulang. Berbagai alasan pembenaran kerap kita dengar, apakah itu mengkambing hitamkan terlambat bangun, kurang tidurlah, atau mau mempersiapkan hidangan buka pusa.
Apapun alasannya yang pasti bahwa bukan seperti itu sikap yang diharapkan dalam bulan puasa. Bulan puasa seharusnya membuat orang muslim semakin Produktif. Lihat saja, kadang ada orang yang terlambat masuk kerja karena terlambat bangun, atau karena menyelesaikan urusan rumah tangga, keperluan anak-anak dan sebagainya. Hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi di bulan puasa.
Kita disunnahkan bangun lebih pagi untuk makan sahur kemudian shalat subuh. Momen seperti ini seharusnya sudah menjadi kebiasaan kita. Apa yang kita bisa petik hikmah dari kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Bangun lebih pagi menandakan sifat orang yang produktif , segala sesuatunya kita bisa siapkan untuk keperluan aktifitas kita pada hari tersebut. Bayangkan saja apabila kita telah mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan, sementara umat lain belum bangun.
bila diumpamakan dengan perlombaan lari, kita telah melesat jauh kedepan, sementara lawan kita masih bersiap-siap untuk mengambil posisi star. Jadi apa yang membuat umat muslim tertinggal?
Bakateri Enterobacter Sakazakii (ancaman kesehatan atau persaingan usaha?)
26 Feb 2008 9 Komentar
in Berita
Penelitian yang dilakukan Tim peneliti dari IPB Bogor (Dr. Sri Estuningsih, dkk) tentang penemuan Bakteri Enterobacter Sakazakii yang mencemari 22,73 % susu formula dan 40 persen makanan bayi spontan membuat resah ibu-ibu rumah tangga yang memiliki anak balita dan mengkonsumsi susu formula.
Ahli Hispatologi fak. Kedokteran Hewan IPB ini mengungkapkan hasil penelitiannya yang dilakukan sejak tahun 2003 sampai 2006 dengan menggunakan sebanyak 22 sampel susu formula dan 15 sampel produk makanan bayi.
Penelitiannya menyimpulkan di Indonesia terdapat susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi oleh E. Sakazakii yang menghasilkan enterotoksin tahan panas dan menyebabkan enteritis, sepsis dan meningitis pada bayi mencit.
Sementara itu Menteri Kesehatan mensinyalisasi penemuan tersebut sebagai persaingan bisnis. Ia mempertanyakan apa latar belakang dilakukannya penelitian tersebut dan siapa penyandang dananya. karena sampai saat ini belum ada kasus yang didapatkan akibat dari infeksi bakteri tersebut. ia juga meminta masyarakat agar tidak terlalu resah dan telah memerintahkan BPOM untuk menindak lanjuti masalah ini.
Apapun alasannya, penelitian tersebut mestinya ditanggapi secara posotif dan mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. Jangan ada tudingan yang negatif karena hal ini menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. Masyarakat mengingkan keterbukaan dari BPOM untuk mengumumkan produk-produk yang terkontaminasi jika memang telah dilakukan investigasi. Jangan melindungi pengusaha dan mengabaikan kesehatan Banyak orang terutama generasi kita.
Praktik Gerontik SPK Pemda Teluk Bintuni Papua di PSTW Gau Mabaji Gowa
19 Feb 2008 Komentar Dimatikan
Hari senin tanggal 18 Februari 2008 merupakan hari yang berbeda dari biasanya di PSTW Gau Mabaji Gowa. PSTW Menerima Kedatangan tamu dari belahan timur Indonesia, SPK Pemda Teluk Bintuni Papua.
Tamu yang datang dari jauh ini akan melakukan Praktik Keperawatan Komunitas yang rencananya akan dilaksanakan selama 4 hari, yaitu tanggal 18 Februari 2008 sampai dengan 21 Februari 2008. Selama pelaksanaan Praktik di PSTW Gau Mabaji Gowa peserta praktikan yang berjumlah 38 orang ini menginap di Asrama yang telah disiapkan pihak Panti, mengingat jadwal kegiatan yang begitu padat yang telah di Programkan dari Institusinya. Kegiatan praktik dimulai dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 18.30 wita.
Kegiatan penerimaan peserta praktik keperawatan komunitas gerontik di laksanakan di Ruang Aula PSTW Gau Mabaji Gowa, yang diterima langsung oleh bapak Kepala Panti Drs. Suryadi Osman.
Dalam sambutan yang dibawakan oleh ibu Koordinator Praktik SPK Teluk Bintuni ibu Ns. Estor Maria, AMd. Keb. S. Kep. menyatakan bahwa Pemerintah Daerah Teluk Bintuni memberikan kepercayaan dan menjalin kerja sama dengan STIKES Stellamaris untuk medidik peserta didik keperawatan ini. Kegitan pembelajaran yang dilaksanakan pada tahun pertama di Teluk Bintuni papu dilanjutkan di Stellamaris Makassar untuk tahun kedua dan ketiga yang sekarang ini telah dijalani.
STIKES Stelamaris yang Telah menjalin kerjasama dengan PSTW Gau Mabaji Gowa dinilai sebagai Institusi Keperawatan yang terbaik dalam mendidik dan melaksanakan praktik keperawatan Gerontik. Penilaian tersebut tidak hanya datang dari Bapak Kepala Panti dan seluruh stafnya akan tetapi juga dirasakan oleh Klien/Lansia yang di PSTW Gau Mabaji.
Satu minggu sebelumnya di PSTW juga telah menerima mahasiswa praktik Gerontik dari Poltekkes Makassar kelas khusus dari Pemda Kab. Gowa yang melaksanakan praktik selama 1 minggu.
Berantas Kemiskinan Ala Muhammad Yunus
07 Jan 2008 7 Komentar
in Artikel
Pada 17 Oktober 2007 lalu pemerintah Indonesia dan sebagian besar elemen masyarakat dunia memperingati hari anti kemiskinan dunia yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-bangsa. Peringatan itu diwarnai oleh aksi dukungan juga aksi unjuk keprihatinan masyarakat miskin yang menginginkan moment tersebut tidak hanya dijadikan sebagai wacana dan seremoni tanpa aksi.
Sistem ekonomi Kapitalisme yang menguasai dunia membuat masyarakat meragukan pemberantasan kemiskinan akan dapat dicapai. Hal tersebut wajar karena sistem kapitalisme hanya membuat orang-orang dan negara-negara kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terpinggirkan.
Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dalam memberantas kemiskinan di Negaranya Bangladesh. Aksi ekonomi paling revolusioner yang dilakukannya mendapat pengakuan dunia, dengan menyingkirkan Presiden SBY dalam meraih Nobel Perdamaian 2006 atas kesuksesannya dalam memberantas kemiskinan di Bangladesh lewat program kredit mikro.
Pada tahun 1976 Muhammad Yunus mentransformasikan lembaga kreditnya menjadi Bank Formal dengan aturan khusus bernama Grameen Bank (Bank Desa). Program ekonomi ini telah mendorong 42 persen peminjam ke atas garis kemiskinan. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2005 menyatakan, Bagladesh telah membuat kemajuan yang mengesankan dalam pengembangan manusia dengan berfokus pada tingkat melek huruf yang bertambah, memperoleh kesetaraan gender dalam sekolah dan mengurangi pertumbuhan penduduk. More



SocialVibe