Penanganan sederhana untuk mengurangi kecemasan

Kecemasan adalah komplikasi gejala kombinasi yang dapat mengontrol gaya hidup seseorang. Kecemasan ditandai oleh banyak gejala termasuk stres, denyut jantung meningkat, gugup, khawatir dan kadang-kadang keterbatasan dramatis dalam gaya hidup. Gejala-gejala dapat mengarahkan mereka yang terkena dampak dari kegiatan normal mereka. Kecemasan bisa sangat sulit untuk diobati. Obat memang ada untuk kecemasan, tetapi obat-obatan tersebut tidak dapat membantu atau menyebabkan efek samping seperti mengantuk. Banyak obat untuk kecemasan menimbulkan kemungkinan toleransi dan kecanduan jika tidak berhati-hati. Ada berbagai perawatan yang tersedia untuk membantu mereka dengan kecemasan yang aman.

Obat adalah penanganan pertama yang digunakan untuk kecemasan. Bagi banyak orang, obat-obat ini dapat membantu, tetapi Lagi

Burnout pada perawat berkorelasi dengan meningkatnya infeksi rumah sakit

Subhan Kadir

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Center for Disease Control and Prevention), sekitar 1,7 juga pasien rawat inap setiap tahunnya mendapatkan infeksi saat dirawat untuk kondisi lain, dan lebih dari 98.000 pasien diantaranya (atau 1 dari 17) meninggal sebagai akibat dari infeksi yang didapat. Ada banyak faktor yang bisa terlibat pada fenomena tersebut, salah satunya adalah pengaturan perawat (nurse staffing) yaitu pengaturan penempatan perawat terkait rasio jumlah pasien dan perawat.

Studi menunjukkan bahwa burnout tidak hanya mempengaruh perawat, tetapi juga berhubungan dengan meningkatnya infeksi pada pasien yang mereka rawat.

Data sekunder menunjukkan bahwa dari 7000 lebih perawat terdaftar (RN) di 161 RS di Pennsylvania, lebih dari sepertiga perawat diantaranya melaporkan mengalami Burnout pada pekerjaannya. Lagi

Soppeng memiliki proporsi penduduk lansia tertinggi di Sulsel, Bone terbanyak.

Subhan Kadir

Bagi anda yang sekedar ingin tahu atau bagi anda yang butuh data untuk kelengkapan bahan tulisan (latar belakang penelitian misalnya) tentang jumlah lanjut usia di Sulawesi Selatan, saya akan memberikannya dimedia ini. Data yang telah saya olah ini diperoleh dari BPS, hasil survey sosial ekonomi nasional atau disingkat SUSENAS 2009. Nama buku sumbernya yaitu Statistik Sosial dan Ekonomi Rumah Tangga Sulawesi Selatan 2009.
pada data yang saya peroleh dari buku BPS ini tidak disebutkan secara langsung tentang data lanjut usia. melainkan ditulis terpisah kelompok usia 60-64 tahun dan usia 65 tahun lebih. Oleh karena batasan lanjut usia menurut UU nomor 13 tahun 1998 (tentang lanjut usia) menyebutkan bahwa lanjut usia (atau disingkat saja “lansia”, nb; orang kesehatan biasa menyebutnya “manula” atau “usila”, bagaimana baiknya aja dah) adalah mereka yang berusia 60 tahun keatas, maka saya menggabungkan tabel kelompok usia tersebut menjadi satu, yaiut hanya kelompok 60 tahun keatas saja.
berdasarkan data yang saya peroleh (tahun 2009, data sensus penduduk 2010 kata orang BPS belum bisa dipublikasi) jumlah total lansia di Sulsel  adalah Lagi

PERLUNYA FASILITAS PERAWATAN JANGKA PANJANG DALAM PANTI WERDHA

Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan jika seseorang mengharapkan umur panjang. Penuaan merupakan bagian dari siklus hidup manusia sebelum akhirnya meninggal dunia. Penuaan didefinisikan sebagai menurunnya fungsi tubuh manusia untuk melakukan perbaikan akibat kerusakan yang terjadi. Penuaan bukanlah merupakan suatu penyakit akan tetapi merupakan suatu kondisi fisiologis, penurunan kondisi tubuh tersebut sering menjadi penyebab rentannya lansia untuk terserang penyakit.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia, dan diprediksi akan menjadi negara yang perpenduduk lansia terbesar ke Lagi

Pro Kontra Khitan Perempuan

Pro kontra khitan perempuan bermula sejak 2002, berawal dari hasil penelitian yang dilakukan pada wanita muslim dewasa di negara-negara Afrika. Khitan dilakukan dengan cara memotong sebagian klitoris dengan tujuan agar wanita tidak dengan mudah mengumbar hasrat seksual. namun cara ini menimbulkan efek pada berkurangnya harmonisasi hubungan seksual suami istri. Banyak wanita diantara mereka yang mengalami kehilangan hasrat seksual karena proses khitan yang dilakukan dengan memotong sebagian klitoris. Beberapa pihak seperti Komite Cedaw dan American Medical Association menilai khitan pada perempuan merupakan tindakan mutilasi.

Klitoris (clitoris) dalam bahasa Indonesia sebagai Kelentit adalah organ reproduksi luar pada wanita yang kaya dengan saraf dan berfungsi dalam proses ereksi, sama dengan fungsi glans penis pada pria. Organ ini sangat penting dalam menciptakan hubungan suami istri yang harmonis.

Di Indonesia, pada tahun 2006 dengan terbit surat edaran Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes RI nomor HK 00.07.1.31047 a, tertanggal 20 April 2006 tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan bagi  Petugas Kesehatan. Sejak saat itu banyak bayi/anak perempuan tidak lagi dikhitan.

Tahun 2008, MUI dan cendikiawan muslim mengeluarkan fatwa menanggapi larangan khitan pada perempuan. Fatwa bernomor 9A tahun 2008 menyatakan bahwa khitan bagi perempuan adalah makrumah dan pelaksanaannya adalah salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan.

Kontroversi ini kemudian dijawab dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1636/MENKES/PER/XI/2010 yang menyatakan khitan perempuan adalah tindakan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris, tanpa melukai klitoris.

Permenkes tersebut pada dasarnya telah sejalan dengan syariat, sebagaimana pendapat Ketua MUI Dr KH Ma’ruf Amin dalam (http://www.republika.co.id/berita/video/umat/13/01/22/mgzmvu-tolak-larangan-khitan-perempuan) yang menjelaskan bahwa prosedur pelaksanaan khitan perempuan menurut ajaran Islam cukup dengan hanya menghilangkan selaput yang menutupi klitoris, tidak dilakukan secara berlebih-lebihan.

Khitan bagi umat Islam laki-laki dicontohkan pertamakali oleh nabi Ibrahim AS dan bagi wanita di contohkan oleh Siti Hajar. Rasulullah pernah pernah bersabda ”Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan  suami.” Meskipun hadis ini tidak sampai pada derajat sahih, namun dianggap cukup moderat dalam menjawab kotroversi pelaksanaan khitan yang sebaik-baiknya.

Secara hukum, pro kontra khitan sebenarnya tidak perlu di perdebatkan lagi karena ia merupakah salah satu syariat dalam ajaran islam. Sementara itu pelaksanaan syariat agama dilindungi dalam UUD, aturan yang lebih tinggi dari surat edaran dan peraturan menteri.

Pada kasus di Afrika yang menjadi sorotan Barat adalah pelaksanaan khitan yang berlebihan dengan memotong klotoris, ini jelas secara medis medis menimbulkan masalah bagi wanita, terutama dalam kehidupan seksual suami istri. Namun cara tersebut telah dijawab dengan fatwa dari MUI dan permenkes tentang khitan.

Umat islam sebaiknya jangan terprovakasi oleh opini yang berupaya mengaburkan pelaksanaan syariat. Disinilah beda orang berilmu tapi tidak beriman, dan orang berilmu dan beriman.

PUASKAH ANDA MENJADI PERAWAT?

Tentunya jika berbicara tentang puas dan tidak puas setiap orang tidak akan ada kesamaannya, karena mereka memiliki kriteria tersendiri tentang kepuasan yang dirasakannya, artinya bahwa puas atau tidak puasnya seseorang adalah hal yang bersifat subjektif tidak akan sama satu dengan lainnya. Manusia sebagai makhluk yang dikaruniai dengan nafsu mendefenisikan kepuasaan tanpa ada batasannya. Manusia selalu haus akan kepuasan walaupun standar kepuasan itu telah diraihnya.

Kepuasan yang dibahas dalam tulisan ini bukanlah kepuasan tanpa batas, kepuasan disini didefensikan sebagai suatu perasaan yang menimbulkan kebahagiaan karena adanya pencapaian yang yang diperoleh berdasarkan usaha yang telah dilakukan dan berdasarkan harapannya sebelum melakukan usaha tersebut. Pencapaian yang diperoleh tersebut cenderung untuk mendorong seseorang untuk lebih berkerja dengan baik  karena berharap akan ada hasil yang lebih baik yang akan dierolehnya.

Belum ada penelitian yang penulis lakukan untuk mengetahui bagaimana kepuasan perawat terhadap pekerjaan yang dilakukannya, hal ini merupakan tantangan bagi penulis dan bagi teman sejawat lainnya untuk melakukan penelitian mengenai masalah ini. Hanya saja sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan keperawatan dan melaksanakan perkerjaan keperawatan dan juga seringnya berinteraksi dengan sesama perawat mengilhami penulis untuk membahas masalah ini.

Kita tidak pungkiri bahwa sebagian besar tatanan pelayanan kesehatan tidak memberikan lingkungan kerja yang kondusif bagi perawat. Masalahnya bermacam-macam. Ada beberapa tatanan pelayanan yang mempekerjakan perawat dengan beban kerja yang berlebih (overload). Terkadang dalam satu sift jaga satu perawat harus melayani sebanyak 8-10 pasien. belum lagi pasien yang dilayani memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi, karena sangat jarang managemen Rumah Sakit yang mengatur jumlah sift perawat berdasarkan tingkat devendensi pasien. Pengaturan sift diatur berdasarkan jadwal yang sangat kaku dan hanya berdasarkan tenaga yang tersedia. Bila perawat jaga kebetulan merawat pasien yang berjumlah sedikit berarti itu adalah keberuntungannya dan bila kebetulan merawat pasien dengan jumlah besar bererati itu adalah resikonya, seperti itulah kemungkinan yang terjadi.

Lingkungan kerja (dalam hal ini ruang perawatan) terkadang penuh sesak. Bukan karena jumlah pasien yang banyak akan tetapi disesaki oleh jumlah pengunjung yang membeludak di samping tempat tidur atau dalam bangsal pasien. Kondisi seperti ini membuat perawat sangat terbatas dalam melakukan tindakan, bahkan kadang kala perawat mendapat perlakukan kasar (secara fisik maupun psikologis) dari keluarga pasien yang mengamuk karena menganggap perawat gagal atau lalai dalam merawat anggota keluarganya. Kondisi membludaknya pengunjung adalah kondisi yang wajar terjadi mengingat sistem kekerabatan bagi kita masyarakat timur masih sangat tinggi. Belum lagi rendahnya intensitas perawatan yang diberikan terhadap pasien yang memiliki tingkat ketergatungan yang sangat tinggi sehingga keluarga merasa sangat perlu untuk mendampingi pasien selama 24 jam.

Penghasilan merupakan faktor yang penting dalam sebuah kepuasan kerja. Penghasilan idealnya disesuai dengan beban dan resiko kerja, semakin tinggi beban dan resiko pekerjaan maka semakin tinggi penghasilan yang harus diterimanya. Tidak ada yang pungkiri jika beban dan resiko kerja perawat sangat tinggi, mendampingi pasien dengan jumlah tertentu selama 24 jam dan dengan berbagai tingkat ketergantungan adalah hal yang berat, belum lagi resiko tertular penyakit seperti hapatitis atau HIV. Di RS besar perawat telah terpenuhi kebutuhannya dari segi penghasilan, akan tetapi hanya sebagian kecil perawat yang berkerja di RS besar seperti itu. Yang lainnya kebanyakan bekerja di RS kecil. Kebanyakan menerima jasa pelayanan yang kecil pula. Lihat saja pemberitaan dibeberapa RS perawat dan petugas lainnya harus berdemonstrasi dan mogok untuk memperjuangkan haknya.

Bagaimana dengan jenjang karir? Menurut beberapa teman sejawat ini adalah hal yang sangat tidak diperhatikan dalam managemen RS. Apakah perawat tidak mampu? Belum tentu. Idealnya sebuah pekerjaan memiliki jenjang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi yang didasarkan pada skill dan tingkat pendidikan serta pelatihan. Akan tetapi kenyataannya semua perawat apapun pendidikannya dan berapa lamapun bekerja mereka mengerjakan pekerjaan yang sama dengan penghasilan yang sama sedikitnya pula. Sehingga banyak merasa bahwa pendidikan yang mereka tempuh dengan segala pengorbanannya terasa sia-sia tak berarti. Jabatan struktural yang membidangi pelayanan keperawatan pun kadangkala dipegang oleh profesi lain, sehingga tidak ada yang mampu mengayomi dan memperjuangkan perawat.

 

Ketidakpuasan kerja akan menyebabkan menurunnya komitmen terhadap organisasi, bornout, konflik peran, dan akhirnya menyebabkan prestasi kerja menurun. Jika terjadi seperti ini maka yang dirugikan adalah organisasi dan penerima layanan.

Lalu bagaimana solusinya? Tentunya regulasi kebijakan dan manajemen yang baik. Masayarakat kita telah berubah sehingga paradigma pelayananpun harus berubah. Pelayanan yang selama ini dianut dan dilaksanakan perlu di update berdasarkan sikon terkini. Ilmu  berkembang dengan pesat, khususnya ilmu management (khususnya mangagement perawatan), mengapa pelayanan tidak berubah. Mari buat perubahan!

Perawatpun perlu menyadari kondisi ini dan jangan mau seperti ini selamanya. Kita adalah salah satu profesi dengan jumlah terbanyak di Indonesia, kenapa kita tidak bisa berasatu untuk membuat perubahan. Mari mengembangkan diri dengan melanjutkan pendidikan dan ikuti berbagai pelatihan. Penulis sarankan perawat jangan hanya mengejar ilmu keperawatan karena pengetahuan anda hanya akan terbatas pada ilmu disamping tempat tidur dan bangsal saja. Perawat perlu mendalami ilmu lainnya, management, ilmu sosial politik, kebijakan publik dan lain sebagainya. Ilmu itu tidak terkait dengan perawat, Salah, semua ilmu terkait dan saling mendukung untuk mengembangkan profesi kita. Pertanyaan sederhana? Mengapa draf UU Keperawatan sampai sekarang belum menjadi UU. Jawabannya sederhana karena tidak ada perawat dalam parlemen, tidak ada yang memperjuangkan amanat kita, tentunya penyebabnya karena sedikit perawat yang memiliki ilmu dibidang ini.

Perawat mari bersatu, mari buat perubahan!

Seharusnya umat muslim lebih produktif di bulan puasa

Kondisi memprihatinkan bisa kita lihat dalam pemberitaan-pemberitaan maupun dalam keseharian yang kita alami sendiri, kantor-kantor pemerintah maupun swasta diberitakan lengan. Pegawainya banyak yang terlambat datang, sementara pada jam kerja banyak yang tertidur, atau banyak yang cepat pulang sebelum waktu pulang. Berbagai alasan pembenaran kerap kita dengar, apakah itu mengkambing hitamkan terlambat bangun, kurang tidurlah, atau mau mempersiapkan hidangan buka pusa.

Apapun alasannya yang pasti bahwa bukan seperti itu sikap yang diharapkan dalam bulan puasa. Bulan puasa seharusnya membuat orang muslim semakin Produktif. Lihat saja, kadang ada orang yang terlambat masuk kerja karena terlambat bangun, atau karena menyelesaikan urusan rumah tangga, keperluan anak-anak dan sebagainya. Hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi di bulan puasa.

Kita disunnahkan bangun lebih pagi untuk makan sahur kemudian shalat subuh. Momen seperti ini seharusnya sudah menjadi kebiasaan kita. Apa yang kita bisa petik hikmah dari kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Bangun lebih pagi menandakan sifat orang yang produktif , segala sesuatunya kita bisa siapkan untuk keperluan aktifitas kita pada hari tersebut. Bayangkan saja apabila kita telah mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan, sementara umat lain belum bangun.

bila diumpamakan dengan perlombaan lari, kita telah melesat jauh kedepan, sementara lawan kita masih bersiap-siap untuk mengambil posisi star. Jadi apa yang membuat umat muslim tertinggal?

Previous Older Entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.172 pengikut lainnya