PUASKAH ANDA MENJADI PERAWAT?

Tentunya jika berbicara tentang puas dan tidak puas setiap orang tidak akan ada kesamaannya, karena mereka memiliki kriteria tersendiri tentang kepuasan yang dirasakannya, artinya bahwa puas atau tidak puasnya seseorang adalah hal yang bersifat subjektif tidak akan sama satu dengan lainnya. Manusia sebagai makhluk yang dikaruniai dengan nafsu mendefenisikan kepuasaan tanpa ada batasannya. Manusia selalu haus akan kepuasan walaupun standar kepuasan itu telah diraihnya.

Kepuasan yang dibahas dalam tulisan ini bukanlah kepuasan tanpa batas, kepuasan disini didefensikan sebagai suatu perasaan yang menimbulkan kebahagiaan karena adanya pencapaian yang yang diperoleh berdasarkan usaha yang telah dilakukan dan berdasarkan harapannya sebelum melakukan usaha tersebut. Pencapaian yang diperoleh tersebut cenderung untuk mendorong seseorang untuk lebih berkerja dengan baikĀ  karena berharap akan ada hasil yang lebih baik yang akan dierolehnya.

Belum ada penelitian yang penulis lakukan untuk mengetahui bagaimana kepuasan perawat terhadap pekerjaan yang dilakukannya, hal ini merupakan tantangan bagi penulis dan bagi teman sejawat lainnya untuk melakukan penelitian mengenai masalah ini. Hanya saja sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan keperawatan dan melaksanakan perkerjaan keperawatan dan juga seringnya berinteraksi dengan sesama perawat mengilhami penulis untuk membahas masalah ini.

Kita tidak pungkiri bahwa sebagian besar tatanan pelayanan kesehatan tidak memberikan lingkungan kerja yang kondusif bagi perawat. Masalahnya bermacam-macam. Ada beberapa tatanan pelayanan yang mempekerjakan perawat dengan beban kerja yang berlebih (overload). Terkadang dalam satu sift jaga satu perawat harus melayani sebanyak 8-10 pasien. belum lagi pasien yang dilayani memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi, karena sangat jarang managemen Rumah Sakit yang mengatur jumlah sift perawat berdasarkan tingkat devendensi pasien. Pengaturan sift diatur berdasarkan jadwal yang sangat kaku dan hanya berdasarkan tenaga yang tersedia. Bila perawat jaga kebetulan merawat pasien yang berjumlah sedikit berarti itu adalah keberuntungannya dan bila kebetulan merawat pasien dengan jumlah besar bererati itu adalah resikonya, seperti itulah kemungkinan yang terjadi.

Lingkungan kerja (dalam hal ini ruang perawatan) terkadang penuh sesak. Bukan karena jumlah pasien yang banyak akan tetapi disesaki oleh jumlah pengunjung yang membeludak di samping tempat tidur atau dalam bangsal pasien. Kondisi seperti ini membuat perawat sangat terbatas dalam melakukan tindakan, bahkan kadang kala perawat mendapat perlakukan kasar (secara fisik maupun psikologis) dari keluarga pasien yang mengamuk karena menganggap perawat gagal atau lalai dalam merawat anggota keluarganya. Kondisi membludaknya pengunjung adalah kondisi yang wajar terjadi mengingat sistem kekerabatan bagi kita masyarakat timur masih sangat tinggi. Belum lagi rendahnya intensitas perawatan yang diberikan terhadap pasien yang memiliki tingkat ketergatungan yang sangat tinggi sehingga keluarga merasa sangat perlu untuk mendampingi pasien selama 24 jam.

Penghasilan merupakan faktor yang penting dalam sebuah kepuasan kerja. Penghasilan idealnya disesuai dengan beban dan resiko kerja, semakin tinggi beban dan resiko pekerjaan maka semakin tinggi penghasilan yang harus diterimanya. Tidak ada yang pungkiri jika beban dan resiko kerja perawat sangat tinggi, mendampingi pasien dengan jumlah tertentu selama 24 jam dan dengan berbagai tingkat ketergantungan adalah hal yang berat, belum lagi resiko tertular penyakit seperti hapatitis atau HIV. Di RS besar perawat telah terpenuhi kebutuhannya dari segi penghasilan, akan tetapi hanya sebagian kecil perawat yang berkerja di RS besar seperti itu. Yang lainnya kebanyakan bekerja di RS kecil. Kebanyakan menerima jasa pelayanan yang kecil pula. Lihat saja pemberitaan dibeberapa RS perawat dan petugas lainnya harus berdemonstrasi dan mogok untuk memperjuangkan haknya.

Bagaimana dengan jenjang karir? Menurut beberapa teman sejawat ini adalah hal yang sangat tidak diperhatikan dalam managemen RS. Apakah perawat tidak mampu? Belum tentu. Idealnya sebuah pekerjaan memiliki jenjang dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi yang didasarkan pada skill dan tingkat pendidikan serta pelatihan. Akan tetapi kenyataannya semua perawat apapun pendidikannya dan berapa lamapun bekerja mereka mengerjakan pekerjaan yang sama dengan penghasilan yang sama sedikitnya pula. Sehingga banyak merasa bahwa pendidikan yang mereka tempuh dengan segala pengorbanannya terasa sia-sia tak berarti. Jabatan struktural yang membidangi pelayanan keperawatan pun kadangkala dipegang oleh profesi lain, sehingga tidak ada yang mampu mengayomi dan memperjuangkan perawat.

 

Ketidakpuasan kerja akan menyebabkan menurunnya komitmen terhadap organisasi, bornout, konflik peran, dan akhirnya menyebabkan prestasi kerja menurun. Jika terjadi seperti ini maka yang dirugikan adalah organisasi dan penerima layanan.

Lalu bagaimana solusinya? Tentunya regulasi kebijakan dan manajemen yang baik. Masayarakat kita telah berubah sehingga paradigma pelayananpun harus berubah. Pelayanan yang selama ini dianut dan dilaksanakan perlu di update berdasarkan sikon terkini. IlmuĀ  berkembang dengan pesat, khususnya ilmu management (khususnya mangagement perawatan), mengapa pelayanan tidak berubah. Mari buat perubahan!

Perawatpun perlu menyadari kondisi ini dan jangan mau seperti ini selamanya. Kita adalah salah satu profesi dengan jumlah terbanyak di Indonesia, kenapa kita tidak bisa berasatu untuk membuat perubahan. Mari mengembangkan diri dengan melanjutkan pendidikan dan ikuti berbagai pelatihan. Penulis sarankan perawat jangan hanya mengejar ilmu keperawatan karena pengetahuan anda hanya akan terbatas pada ilmu disamping tempat tidur dan bangsal saja. Perawat perlu mendalami ilmu lainnya, management, ilmu sosial politik, kebijakan publik dan lain sebagainya. Ilmu itu tidak terkait dengan perawat, Salah, semua ilmu terkait dan saling mendukung untuk mengembangkan profesi kita. Pertanyaan sederhana? Mengapa draf UU Keperawatan sampai sekarang belum menjadi UU. Jawabannya sederhana karena tidak ada perawat dalam parlemen, tidak ada yang memperjuangkan amanat kita, tentunya penyebabnya karena sedikit perawat yang memiliki ilmu dibidang ini.

Perawat mari bersatu, mari buat perubahan!

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.